Showing posts with label SOSPOL. Show all posts
Showing posts with label SOSPOL. Show all posts

Perilaku Ekonomi dari Perspektif Psikologi

Lebih dari satu abad, model pengambilan keputusan yang menjadi canon dalam ekonomi didasari oleh pandangan manusia sebagai homo economicus. Pandangan ini mengambil asumsi bahwa manusia adalah agen rasional dalam aktivitas ekonomi yang hanya memaksimalkan kegunaan yang diharapkan (expected utility) atau kebahagiaan yang terberi oleh suatu preferensi tertentu dalam berbagai keadaan. Dengan demikian, tingkahlaku manusia dapat direduksi menjadi optimasi penyelesaian masalah. Dalam pandangan ini, manusia selalu rasional dalam memilih dalam situasi apapun.

Sifat rasional di sini diartikan sebagai ciri dari tindakan yang
Ø memperhitungkan untung-rugi,
Ø mementingkan keuntungan diri sendiri (self-interest), dan
Ø memberikan hasil yang sebesar-besarnya
dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Pengertian rasional itu mendasari cara pikir para ekonom sebagai berikut:
v Perspektif yang mereka gunakan adalah perspektif untung dan rugi;
v Masalah yang mereka kaji intinya adalah seputar menetapkan keuntungan dan kerugian;
v Analisis yang mereka tampilkan adalah analisis marjinal; dan
v menerakan nilai waktu terhadap uang, dalam arti Rp. 1 sekarang lebih berharga dari Rp. 1 besok karena bisa diinvestasi dan mendapat bunga.

Menurut pandangan ekonomi rasional itu, dalam kondisi apapun manusia selalu menampilkan perilaku yang didasari oleh perhitungan untung-rugi dengan kepentingan untuk menguntungkan dirinya. Perilaku yang ditampilkan selalu diusahakan agar sesedikit mungkin disertai pengorbanan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Contoh, seorang pedagang akan menjual baju kepada orang yang jadi korban bencana banjir dengan harga yang sama dengan yang ia tawarkan kepada orang yang tidak mengalami bencana. Pertimbangan pedagang itu adalah ia harus mendapat untung dalam berdagang lepas dari kondisi yang dialami atau karakteristik yang dimiliki oleh pembelinya. Faktor sentimen, solidaritas, motif altruistik dan sebagainya tidak menjadi pertimbangan pedagang itu. Yang penting bagi pedagang itu adalah mendapatkan untung sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya.
Pandangan manusia sebagai makhluk rasional ini dikritik dan disanggah oleh para pemikir Behavioral Economics yang memandang keputusan manusia lebih kompleks dari sekedar perhitungan untung-rugi atau optimasi nilai guna. Dalam praktek keseharian, menurut para pemikir itu, manusia tidak selalu menampilkan perilaku rasional. Manusia memiliki keterbatasan pengetahuan dan kemampuan kognitif. Rasionalitas manusia perlu dipahami sebagai rasionalitas yang dikelilingi oleh batas-batas tertentu atau disebut sebagai bounded rationality (Simon, 1957). Pemikiran ini membantah pandangan ekonomi formal dan rasional yang berkembang di tahun 1940-an yang mengasumsikan manusia memiliki informasi yang lengkap, memaksimalkan perilakunya, dan hanya mementingkan diri sendiri. Pandangan ini juga menyanggah teori expected utility dari von Neumann dan Morgenstern (1944).
Pengaruh psikologi cukup besar dalam pandangan dan pemikiran para ahli ekonomi behavioral, terutama dalam memahami rasionalitas. Psikologi memahami tingkahlaku manusia sebagai gejala deskriptif, gejala yang dipahami dan dijelaskan apa adanya. Rasionalitas atau sifat rasional juga dipahami secara deskriptif oleh para psikolog. Pendekatan deskriptif ini digunakan oleh para ahli behavioral economics termasuk dalam memahami rasionalitas.
Rasionalitas yang dimaksud oleh para `ekonom rasional' pada kenyataannya bersifat normatif. Awalnya adalah pernyataan normatif, "jika ingin untung maka bertindaklah rasional." Namun kemudian pernyataan normatif itu diperlakukan secara deskriptif, "semua orang rasional" atau "manusia adalah makhluk rasional yang selalu memperhitungkan untung-rugi'. Psikologi sebagai ilmu deskriptif menemukan penyataan "semua orang rasional" itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Pada prakteknya, orang tidak selalu rasional dalam bertingkahlaku dan tindakan seseorang dipengaruhi juga oleh berbagai faktor selain perhitungan untung-rugi. Meski tidak bisa dibilang "manusia tidak rasional", tidak bisa pukul rata menegaskan "semua orang rasional". Oleh karena itu, psikologi mencoba memahami pengertian `rasional' dalam arti yang lebih luas. Pernyataan dasar yang digunakan adalah "Manusia tidak mesti rasional."
Asumsi normatif dalam ekonomi makin banyak mendapat tantangandari model deskriptif. Bukti-bukti empirik menunjukkan bahwa tingkahlaku manusia tidak konsisten dengan model canon ekonomi yang didasari oleh pandangan homo economicus. Tak jarang orang menampilkan perilaku pengambilan kepitusan tak rasional dalam keseharian mereka. Contohnya, pilihan terhadap beberapa keadaan yang sama tergantung pada titik rujukan (reference point) yang dihasilkan oleh pembingkaian (framing). Contoh lain, orang tak jarang menunjukkan preferensi yang tak konsisten. Bias sistematis atau error tampil dalam proses pembuatan keputusan ketika orang menggunakan jalan pintas dalam berpikir (heuristic).
Mengambil cara pandang psikologi, behavioral economics mencoba memahami manusia seperti seorang psikolog memahami manusia. Psikolog memahami manusia sebagai makhluk rasional, tetapi lebih dari itu, manusia juga makhluk emosional, makhluk sosial, dan sebagainya. Jika ekonom konvensional menganggap tidak penting asumsi dan lebih mementingkan prediksi, maka psikolog menilai penting asumsi yang realistik. Psikolog tidak mencari tahu yang normatif, melainkan yang deskriptif, memaparkan fakta yang ditemukannya. Jika ekonom konvensional menegaskan manusia adalah egois, maka psikolog memandang manusia tidak hanya egois, melainkan bisa juga altruis, berorientasi sosial, dan sebagainya.
Seiring dengan banyaknya kritik ditujukan kepada teori expected utility, menggunakan dasar pemikiran bounded rationality dari Simon (1957), di tahun 1960-an dan 1970-an fokus ekonomi bergeser dari normatif (apa yang seharusnya dilakukan untuk mencapai yang optimum) ke deskriptif (apa yang benar-benar dilakukan). Teori prospek dari Kahneman dan Tversky (1979), Thaler (1981), Lowenstein (1987, 1988, 1992) menunjukkan bukti-bukti empirik bagaimana orang menampilkan perilaku ekonomi yang tidak selalu rasional. Kahneman dan Tversky (1979) meneliti bagaimana orang memberi penialaian terhadap prospek. Mereka mendefinisikan prospek sebagai kombinasi antara hasil dan probabilita. Penelitian mereka menunjukkan bahwa bias terjadi dalam penilaian prospek. Orang tak jarang memberi penilaian yang tidak rasional terhadap risiko kerugian dan kemungkinan berhasil. Thaler (1981) juga menunjukkan berbagai anomali khusus terjadi di pasar. Loewenstein (1988) menunjukkan bahwa kerangka pikir sesorang mempengaruhi keputusan yang diambilnya dalam memilih.
Berkembangnya ekonomi behavioral sejalan dengan pemahaman bahwa persoalan ekonomi ada dalam berbagai ranah kehidupan. Perilaku ekonomi tidak terbatas hanya pada urusan uang atau perdagangan. Garry Becker mengemukakan teori cinta yang memandang hubungan percintaan sebagai hubungan ekonomi, dengan demikian perilaku dalam hubungan cinta pun adalah perilaku ekonomi. Menurut Becker cinta mengenal pasar jodoh seperti halnya pasar tempat penjual dan pembeli bertemu. Tiap orang yang mencari jodoh merupakan penjual sekaligus pembeli (sama seperti bursa saham). Diri seseorang merupakan komoditi memiliki, memiliki harga pasar. Transaksi terjadi kalau harga yang ditawarkan penjual sama dengan harga yang rela dibayar pembeli.
Pemahaman terhadap perilaku ekonomi yang tak terbatas hanya pada urusan uang dan dagang menjadikan perilaku ekonomi sebagai kajian psikologi. Sebagai ilmu yang mempelajari tingkahlaku manusia, psikologi menjadikan perilaku ekonomi sebagai objek kajiannya. Hasilnya, sesuai dengan cara pandang deskriptif, ditemukan bahwa manusia tidak mesti rasional. Ada pengaruh faktor-faktor non-rasional dalam pengambilan keputusan, seperti faktor gairah (passion), motif sosial, dan pertimbangan kondisi orang lain. Pemikiran seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam ekonomi. Adam Smith (1759) dalam buku Theory of Moral Sentiments sudah mengemukakan bahwa perilaku ditentukan oleh dua proses yang bertentangan, (1) gairah (seperti dorongan seks dan lapar) serta (2) proses individu melihat dirinya dari kacamata orang lain (impartial spectator). Proses itu dapat mengoreksi bahkan menggagalkan dorongan gairah.

Kajian tentang preferensi belakangan juga menunjukkan tidak memadainya pandangan manusia sebagai homo economicus. Temuan-temuan psikologi tentang preferensi membantah pandangan ekonomi konvensional. Merujuk kepada Samuelson (1937), ekonom konvensional menggunakan konsep revealed preference yang menjelaskan bahwa apa yang tampak dipilih oleh seseorang merupakan preferensi orang itu. Mereka menganggap perilaku yang tampak mencerminkan preferensi. Sebagai contoh, jika ada orang dalam sebuah pesta mengambil sate sebagai lauk makannya, maka dapat disimpulkan bahwa orang itu memang suka sate; jika ia mengambil puding berarti ia suka puding. Pemikiran ini sejalan dengan pandangan aliran Behavioristik dalam psikologi yang hanya mengkaji gejala-gejala yang tampak (overt). Berbagai penelitian psikologi belakangan ini membantah ini dan menunjukkan bahwa ada yang tersirat dari yang tampak. Ada faktor-faktor yang tersembunyi dari perilaku yang tampak. Perilaku tidak selalu mengambarkan atau mencerminkan selera. Contoh, orang mengambil sate bisa karena hanya itulah makanan yang tersisa jadi meski ia taksuka sate, ia mengambilnya juga. Begitu pula dengan pilihan puding, bisa jadi orang itu mengambil puding karena makanan penutup lain sudah habis sehingga ia tak punya pilihan lain.

Menanggapi bantahan psikologi soal preferensi, ekonomi mengeluarkan berbagai teori untuk melengkapi pemikiran mereka tentang perilaku ekonomi manusia. Salah satunya adalah teori keterbatasan (constrain theory) yang menyatakan bahwa perilaku ekonomi manusia dibatasi oleh ketersediaan sumberdaya dan kemampuan. Contoh, sebuah mobil BMW model terbaru diperlihatkan kepada seseorang dan ia dimintai tanggapannya. Lalu orang itu menjawab, "bagus". Bukan berarti ia akan beli mobil BMW itu. Orang mebeli atau tidak mobil itu tergantung pada anggaran atau sumberdaya yang ia punya. Pemikiran tentang preferensi tersebut berbeda dengan pandangan psikologi yang menyatakan bahwa preferensi meramalkan tingkahlaku.

Pemikiran penting dalam ekonomi yang cukup signifikan mendorong penelitian-penelitian psikologi di bidang perilaku ekonomi adalah pemikiran Herbert Simon yang menyatakan bahwa kemampuan kognitif manusia terbatas. Manusia bukan komputer canggih yang memiliki informasi lengkap dan mampu mengolah semua informasi secara rasional. Rasionalitas perlu dipahami dalam arti spesifik, berfungsinya tidak setiap saat. Dalam keseharian, dapat dilihat bahwa kognisi manusia terbatas. Faktor situasional juga berperan dalam menentukan perilaku. Contoh, di satu waktu seorang pembicara membuat makalah secara sangat hati-hati karena makalah itu akan disajikan di forum internasional. Di waktu lain, ia membuat makalah asal jadi karena makalah itu hanya di sajikan di kalangan internal tempat ia bekerja. Situasi yang berbeda bisa menggerakkan manusia menampilkan perilaku yang berbeda. Dari sini dapat disimpulkan, manusia tidak selalu mencermati apa yang ia lakukan. Ia bisa tidak rasional dalam bertingkahlaku dalam situasi-situasi yang dianggapnya tidak menuntut ia untuk bertanggung-jawab.

Pemikiran Simon itu memicu dilakukannya berbagai penelitian di bidang psikologi kognitif untuk memahami kerja pikiran manusia dan keterbatasan-keterbatasannya.Penelitian-penelitian itu membandingkan sifat rasional yang diklaim ekonom konvensional dengan perilaku manusia sehari-hari. Dari sana ditemukan bahwa orang sering melakukan heuristik atau mengambil jalan singkat dalam berpikir. Orang tidak selalu mengumpulkan informasi secara lengkap dan mengolah informasi itu secara optimal. Bias-bias banyak terjadi dalam pengambilan keputusan. Temuan Kahneman dan Tversky (1979) yang sudah disebut tadi merupakan salah satu hasil dari penelitian semacam itu.

Berbagai temuan dalam kajian psikologi kognitif memberikan bukti bahwa pandangan manusia sebagai homo economicus yang melulu rasional tidak memadai untuk dipakai menjelaskan, meramalkan dan mengontrol perilaku ekonomi. Pandangan normatif itu tidak sesuai dengan kondisi nyata yang ada dalam keseharian manusia. Secara deskriptif, manusia bisa rasional, bisa juga tidak rasional dalam membuat keputusan. Sebagai alternatif, diajukan pendekatan rasional preskriptif yang mencoba memahami bagaimana menjadikan manusia lebih rasional dalam memilih. Jika ditemukan bahwa perilaku ekonomi orang tidak selalu rasional, maka perlu dicari tahu bagaimana orang bisa untung dengan kondisi seperti itu. Untuk itulah kajian-kajian perilaku ekonomi perlu dilakukan secara lebih realistik dan sesuai dengan kenyataan empirik dengan tujuan untuk membantu orang-orang mencapai kesejahteraan lebih baik lewat perilaku-perilaku mereka.***

Daftar Pustaka
Antonides, G. 1998. Psychology for Economics and Bussiness.
De Cremer, dkk. (Eds). 2006. Social Psychology and Economics.
Kahneman, D. & Tversky, A. 'Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk,' Econometrica, XVLII (1979), 263–291.
Samuelson, Paul (1937). `A note on measurement of utility'.Review of Economic Studies, 4, 155-161.
Smith, A. (1759/1892). The Theory of Moral Sentiments. New York: Prometheus Books.
Thaler, R. (1981). Some empirical evidence on dynamic inconsistency. Economics Letters, 8, 201-207.
von Neumann, J., & Morgenstern. (1947). Theory of Games and Economic Behavior. (2nd ed.). Princeton NJ: Princeton University.
http://www.behaviouralfinance.net/.
http://www.appropriate-economics.org/.

1. Makalah ini disajikan dalam acara "Diskusi Psikologi dan Perilaku Ekonomi" tanggal 26 Februari 2007 yang diselenggarakan dalam Pekan Psikologi UI 2007 di Fakultas Psikologi UI.
2. Harry Susianto adalah pengajar Mata Kuliah Psikologi dan Perilaku Ekonomi di Fakultas Psikologi UI. Ia sekarang menjabat sebagai Kepala Bagian Psikologi Sosial di Fakultas Psikologi UI. Makalah ini dibuat berdasarkan hasil wawancara dan bahan tertulis dari Harry Susianto; dirangkai oleh Bagus Takwin sebagai moderator dalam diskusi ini.

Field of Sociology Study / Subfields of Sociology (Bidang Kajian Sosiologi / Sub Bagian Sosiologi)

Social Network Analysis diagram

Field Of Sociology Study

1. Aging, sociology of (see also sociology of youth)

2. Applied sociology/clinical sociology (see also sociological practice)

3. Architecture, Sociology of

4. Art, Sociology of (see also sociology of music, visual sociology)

5. Body, Sociology of

6. Business, Sociology of (see also economic sociology)

7. Childhood, Sociology of (see also sociology of youth and sociology of aging)

8. Collective behavior (see also sociology of social movements)

9. Communication, Sociology of (see also sociology of media)

10. Comparative sociology

11. Computational sociology

12. Conflict, sociology of (see also sociology of military)

13. Consumption, Sociology of

14. Crime, sociology of (see also sociology of law, sociology of punishment and criminology)

15. Culture, Sociology of (see also cultural studies)

16. Development, Sociology of (see also economical sociology, evolutionary sociology)

17. Deviance, Sociology of

18. Disaster, Sociology of

19. Dramaturgical sociology

20. Economic sociology (also known as sociology of economic development. See also sociology of business)

21. Education, Sociology of

22. Emotions, Sociology of

23. Environmental sociology (sociology of human ecology)

24. Ethnicity, sociology of (see sociology of race and ethnic relations)

25. Evolutionary sociology (also known as sociology of sociocultural evolution, see also sociology of development, economic sociology,sociology of the state)

26. Family, Sociology of the

27. Fatherhood, Sociology of (see also sociology of the family and sociology of motherhood)

28. Feminist sociology (see also sociology of masculinity and sociology of gender)

29. Film, Sociology of

30. Food, Sociology of

31. Gender, Sociology of (Sociology of sex roles)

32. Gerontology (Sociology of Aging)

33. Globalization, Sociology of (see also sociology of the world system)

34. Governance, sociology of (see political sociology and sociology of organizations))

35. Health and illness, Sociology of (see also sociology of medicine)

36. Historical sociology (see also history of sociology)

37. History of science, Sociology of the (see also sociology of science and historical sociology)

38. Immigration, Sociology of (see also sociology of migration)

39. Industrial sociology (also known as sociology of industrial relations, see also sociology of labor, sociology of work)

40. Internet, sociology of

41. Knowledge, Sociology of (see also sociology of science and sociology of communication)

42. Language, Sociology of

43. Law, Sociology of (see also sociology of crime and sociology of punishment)

44. Labor, sociology of (see also economic sociology, 'industrial sociology, sociology of work and Marxist sociology)

45. Leisure, Sociology of (see also sociology of work and sociology of time)

46. Literature, Sociology of

47. Markets, Sociology of (also known as behavioral finance or behavioral economics)

48. Masculinity, Sociology of (see also feminist sociology and sociology of gender)

49. Marxist sociology (see also world system sociology and sociology of work)

50. Mathematical sociology

51. Media, Sociology of (see also sociology of communication)

52. Medicine, Sociology of (also known as sociology of medicine. See also Sociology of health and illness

53. Memory, Sociology of

54. Migration, Sociology of (see also sociology of immigration and demographics)

55. Military, Sociology of the

56. Motherhood, sociology of (see also sociology of the family, sociology of fatherhood)

57. Music, Sociology of (see sociomusicology)

58. Organizations, Sociology of

59. Peace, war, and social conflict, Sociology of

60. Political sociology (also known as sociology of politics, sociology of governance or sociology of the state)

61. Program evaluation

62. Public sociology

63. Punishment, Sociology of (see also sociology of crime and sociology of law)

64. Pure sociology

65. Race, sociology of (see sociology of race and ethnicity)

66. Sociology of race and ethnic relations (also know as sociology of ethnicity, sociology of ethnic relations or sociology of race. See alsoethnic relations)

67. Religion, Sociology of

68. Rural sociology

69. Science, sociology of (see also sociology of knowledge and sociology of technology))

70. Social movements, sociology of (see also collective behavior)

71. Sociobiology (see also evolutionary psychology)

72. Sociography

73. Sociological practice (also see applied sociology)

74. Sociometry

75. Sociomusicology (also known as sociology of music)

76. Sport, Sociology of

77. State, sociology of (see political sociology)

78. Technology, Sociology of (see also sociology of science)

79. Terrorism, Sociology of (see also sociology of conflict, sociology of social movements and political sociology)

80. Time, Sociology of (see also sociology of leisure and sociology of work)

81. Transport, Sociology of

82. Urban sociology

83. Visual sociology

84. War, Sociology of (see also military sociology)

85. Work, Sociology of (see also sociology of industrial relations, sociology of leisure and sociology of time)

86. World systems, Sociology of (also known as sociology of globalization)

87. Youth, Sociology of (see also sociology of aging and sociology of childhood)


Bidang Kajian Sosiologi

1. Penuaan, sosiologi (lihat juga sosiologi pemuda)

2. Applied sosiologi / klinis sosiologi (lihat juga sosiologis praktek)

3. Arsitektur, Sosiologi

4. Seni, Sosiologi (lihat juga sosiologi musik, visual sosiologi)

5. Tubuh, Sosiologi

6. Bisnis, Sosiologi (lihat juga ekonomi sosiologi)

7. Masa kanak-kanak, Sosiologi (lihat juga sosiologi pemuda dan sosiologi penuaan)

8. Perilaku kolektif (lihat juga sosiologi gerakan sosial)

9. Komunikasi, Sosiologi (lihat juga sosiologi media)

10. Komparatif sosiologi

11. Komputasi sosiologi

12. Konflik, sosiologi (lihat juga sosiologi militer)

13. Konsumsi, Sosiologi

14. Kejahatan, sosiologi (lihat juga sosiologi hukum, sosiologi hukuman dan kriminologi)

15. Budaya, Sosiologi (lihat juga cultural studies)

16. Pembangunan, Sosiologi (lihat juga ekonomi, sosiologi, sosiologi evolusioner)

17. Deviance, Sosiologi

18. Bencana, Sosiologi

19. Dramaturgical sosiologi

20. Ekonomi sosiologi (juga dikenal sebagai sosiologi pembangunan ekonomi. Lihat juga sosiologi bisnis)

21. Pendidikan, Sosiologi

22. Emosi, Sosiologi

23. Lingkungan sosiologi (sosiologi ekologi manusia)

24. Etnis, sosiologi (lihat sosiologi hubungan ras dan etnis)

25. Evolusi sosiologi (juga dikenal sebagai evolusi sosiokultural sosiologi, lihat juga sosiologi pembangunan, sosiologi ekonomi, sosiologi negara)

26. Keluarga, Sosiologi

27. Ayah, Sosiologi (lihat juga sosiologi keluarga dan sosiologi ibu)

28. Feminis sosiologi (lihat juga sosiologi maskulinitas dan sosiologi gender)

29. Film, Sosiologi

30. Makanan, Sosiologi

31. Gender, Sosiologi (Sosiologi peran seks)

32. Gerontology (Sociology of Aging)

33. Globalisasi, Sosiologi (lihat juga sosiologi sistem dunia)

34. Pemerintahan, sosiologi (lihat sosiologi politik dan sosiologi organisasi))

35. Kesehatan dan penyakit, Sosiologi (lihat juga sosiologi kedokteran)

36. Sosiologi sejarah (lihat juga sejarah sosiologi)

37. Sejarah ilmu pengetahuan, Sosiologi (lihat juga sosiologi sejarah ilmu pengetahuan dan sosiologi)

38. Imigrasi, Sosiologi (lihat juga sosiologi migrasi)

39. Industri sosiologi (juga dikenal sebagai sosiologi hubungan industrial, lihat juga sosiologi tenaga kerja, sosiologi kerja)

40. Internet, sosiologi

41. Pengetahuan, Sosiologi (lihat juga ilmu sosiologi dan sosiologi komunikasi)

42. Bahasa, Sosiologi

43. Hukum, Sosiologi (lihat juga sosiologi sosiologi kejahatan dan hukuman)

44. Tenaga kerja, sosiologi (lihat juga ekonomi, sosiologi, 'sosiologi industri, sosiologi kerja dan sosiologi Marxis)

45. Kenyamanan, Sosiologi (lihat juga sosiologi kerja dan sosiologi waktu)

46. Sastra, Sosiologi

47. Pasar, Sosiologi (juga dikenal sebagai keuangan atau perilaku perilaku ekonomi)

48. Maskulinitas, Sosiologi (lihat juga feminis sosiologi dan sosiologi gender)

49. Marxis sosiologi (lihat juga sistem dunia sosiologi dan sosiologi kerja)

50. Matematika sosiologi

51. Media, Sosiologi (lihat juga sosiologi komunikasi)

52. Medicine, Sosiologi (juga dikenal sebagai sosiologi kedokteran. Lihat juga Sosiologi kesehatan dan penyakit

53. Memori, Sosiologi

54. Migrasi, Sosiologi (lihat juga sosiologi imigrasi dan demografi)

55. Militer, Sosiologi dari

56. Keibuan, sosiologi (lihat juga sosiologi keluarga, sosiologi ayah)

57. Musik, Sosiologi (lihat sociomusicology)

58. Organisasi, Sosiologi

59. Perdamaian, perang, dan konflik sosial, Sosiologi

60. Politik sosiologi (juga dikenal sebagai sosiologi politik, sosiologi sosiologi pemerintahan atau negara)

61. Program evaluasi

62. Public sosiologi

63. Hukuman, Sosiologi (lihat juga sosiologi kejahatan dan sosiologi hukum)

64. Pure sosiologi

65. Ras, sosiologi (lihat sosiologi ras dan etnis)

66. Sosiologi hubungan ras dan etnis (juga tahu sebagai etnis sosiologi, sosiologi sosiologi hubungan etnis atau ras. Lihat juga hubungan etnis)

67. Agama, Sosiologi

68. Sosiologi pedesaan

69. Science, sosiologi (lihat juga sosiologi sosiologi pengetahuan dan teknologi))

70. Gerakan sosial, sosiologi (lihat juga perilaku kolektif)

71. Sosiobiologi (lihat juga psikologi evolusioner)

72. Sociography

73. Sosiologis praktek (juga lihat diterapkan sosiologi)

74. Sociometry

75. Sociomusicology (juga dikenal sebagai sosiologi musik)

76. Sport, Sosiologi

77. Negara, sosiologi (lihat sosiologi politik)

78. Teknologi, Sosiologi (lihat juga sosiologi sains)

79. Terorisme, Sosiologi (lihat juga sosiologi konflik, sosiologi gerakan sosial dan politik sosiologi)

80. Waktu, Sosiologi (lihat juga sosiologi waktu luang dan sosiologi kerja)

81. Transport, Sosiologi

82. Sosiologi perkotaan

83. Visual sosiologi

84. Perang, Sosiologi (lihat juga sosiologi militer)

85. Kerja, Sosiologi (lihat juga sosiologi hubungan industrial, sosiologi sosiologi waktu luang dan waktu)

86. Sistem dunia, Sosiologi (juga dikenal sebagai sosiologi globalisasi)

87. Pemuda, Sosiologi (lihat juga sosiologi penuaan dan sosiologi masa kanak-kanak)


Bidang Kajian Sosiologi di Indonesia

ü Sos. Lingkungan

ü Sos. Ekonomi

ü Sos. Industri

ü Sos. Kesehatan

ü Sos. Politik

ü Sos. Agama

ü Sos. Perkotaan

ü Sos. Pedesaan

ü Sos. Sex & Gender

ü Perubahan Sosial

ü Public Relation

ü Sos. Pembangunan

ü Kajian Masyarakat Maritim

ü Kajian Masyarakat Pertanian

ü Gerakan Sosial

ü Sos. Komunikasi

ü Sos. Olahraga